All I want is fighting for a better and equal world to live for all of my sisters and our daughters. . .
#1 short messages
Posted in di MT Haryono on October 6, 2009 by wendyMy desire is just an old-fashioned temper called: obsession.
diary #1
Posted in Curve on September 14, 2009 by wendyAku bukan kekasih kecilmu yang manis, menata jemari dan sibak rambutnya dengan warna yang indah dan tepat. Aku tak seperti figur-figur yang kau baca dalam berita dan wacana pembebasan. Aku pun bukan perempuan-perempuan subur yang telah terbiasa kau kenali dari dongeng-dongeng ibumu. Aku juga bukan jalang liar yang hadir di tiap mimpi-mimpi dalam malam sepimu.
Kau akan selalu saja gagal mengenaliku, jika kau tak pernah benar-benar menjadi kawan dalam terjal landainya perjalananku. Kau akan tetap menjadi komentator moral dari dunia yang penuh tumpah ruah kabar burung mengenai terlarangnya perempuan yang berlalu lalang dalam malam. Kau pun selalu saja menjadi kritikus fashion, ketika kau temukan ada yang janggal dengan warna kulit yang kubanggakan, lekuk-lekuk di tubuhku yang kau tuding sebagai kecacatan, bahkan hanya sekedar oblong yang kukenakan. Kau (lagi-lagi), dari balik buku-buku dan barisan yang kau sombongkan itu, menuduhku sebagai seorang anak manusia yang buta tuli tak peduli dengan hingar bingar ketimpangan di dunia. Dan kau (masih saja) selalu sok tahu, hanya karena kau pernah menjadi bagian dari sajak-sajak rinduku, hanya karena kau mampu mencuri kecup dariku, dan hanya karena kau dapat membuka percakapan denganku, di kedai kopi pada sebuah jenuh hari.
Kau tak akan pernah mengenaliku dengan baik, dan kurasa kau tak perlu mencobanya, atau berpura-pura dapat melakukannya. Kupikir, sebaiknya kau buang saja analisismu, ukuran-ukuran idealmu, gossip-gossipmu, dan tuduhan-tuduhanmu itu, karena aku adalah aku.
pada 23 Mei
Posted in di MT Haryono on July 28, 2009 by wendyada saja yang masih segar dalam ingatan,
seperti,
beberapa bulan yang lalu:
Sabtu cerah di akhir bulan Mei, kita berkenalan.
Oblong cokelat, suara yang rendah, dan sapuan telapak tangan.
Juga beberapa senyummu yang begitu menyenangkan.
dari 31 Juli 2009
Posted in di MT Haryono on July 21, 2009 by wendyHidup bukanlah tragedi
Bukan pula komedi
Hidup adalah syair-syair satir
Di mana lara dan tawa
Menafasi segala
sia-sia
Posted in di MT Haryono on July 19, 2009 by wendyMusim mengguratkan badai
Waktu menuliskan peristiwa
Segalanya seperti sedia kala
Seluruh bersanding dengan pastinya
Tidakkah dapat dengan begitu saja, kau terima tiap gugur sebagai anak kemarau?
Tiap dahaga tanah retak sebagai pertanda sebuah musim?
Lalu mengapa masih saja kau sirami bibit-bibit tanya?
Kau beri makan gelisah dengan pencarian yang sia-sia
cups of coffee #4
Posted in di MT Haryono on July 19, 2009 by wendykuabaikan musim kering menderaku
lewat dingin dan perih yang dibawa angin
karena dalam waktu, ketika sebuah perjalanan pulang
mempertemukan kita
berikanlah hangat suara lewat sapamu
dan kubiarkan rutinitas membunuhku perlahan
dengan sayat-sayat kepenatan
karena dalam waktu, ketika terik mulai padam
tinggal hangat di sebuah cangkir kopi
berikanlah senyummu yang begitu menyenangkan
cups of coffee #3
Posted in di MT Haryono on July 15, 2009 by wendydan aku mencarimu,
pada pagi, tiap waktu, di berbagai musim
karena keingintahuanku adalah
seribu kupu-kupu
yang ingin mengecupi tiap relung madu
di taman bungamu
cups of coffee #2
Posted in di MT Haryono on July 15, 2009 by wendywhen I stood by my loneliness, for a moment I just imagined being a part of this breezy season for being close to you.
as a sunny morning’s light, could I become the first which gave you a waking up whispers?
as a breezing evening’s wind, could I become the last which gave you a gentle kisses before your rest?
due to the curve #2
Posted in Curve on July 15, 2009 by wendyand just like my sisters and I said, “we are never sorry for being a woman, we just have to force our self a little bit hard than your son, Mom”
due to the curve #1
Posted in Curve on July 15, 2009 by wendyjust like my mother said, “why did you always come home with the bloody body, my little girl?”
cups of coffee #1
Posted in di MT Haryono on June 24, 2009 by wendyseperti biasa,
izinkanlah aku menyimpan sedikit saja sisa suaramu yang kucuri dari sebuah percakapan rutin
di sebuah sore, seusai kepayahan melanda
atau justru kegelisahan yang masih ingin kau nikmati
entahlah.
tak banyak yang kumengerti tentangmu, selain nama, sisa suara atau berkas senyum yang cukup menyenangkan.
namun biarkan saja jarak menjaga kita dari bujuk keakraban,
tegur sapa, dan penyakit yang bernama: ingin memiliki.
sebab dalam pencarianku hanya ada luka
dan akhir yang sudah lama kukenali,
kusebut segala itu sebagai sia-sia.
ordinary midnight
Posted in Uncategorized on June 24, 2009 by wendysenyap sehabis gerimis,
lilin citrus,
lampu jingga,
remang Jazz dan beberapa sulut tembakau
serta memori tentang suaramu
“kemelut asap akan menemukan tiadanya,
sedangkan kegelisahan, apakah akan memiliki tepinya?”
pahit.pahit.pahit
Posted in di MT Haryono on June 24, 2009 by wendykemanakah layangnya kupu bersayap merah jambu yang pernah hinggap di pekarangan hati kita?
kemanakah tisik sejuknya hujan di sebuah kemarau yang mampu memadamkan amuk si sepi?
aku tak ingin mencaritahu lagi, kemana kau akan beranjak
setelah kita menyelesaikan dekap, merapikan susunan hari seperti sedia kala, dan memberikan angan tentang hari esok,
kepada kesia-siaan
cerita hanya sepekan
Posted in Si Sepi on June 24, 2009 by wendyBagiku kau begitu absurd, kadang tak terjangkau kata-kata.
Terkadang juga, kurasa kau hanyalah angan:
seonggok bayi haram dari persetubuhan sepi dan keputusasaan
tentang rindu
Posted in di MT Haryono on June 24, 2009 by wendyRinduku adalah rindu yang biasa.
Rindu yang tak terlalu perlu jawaban, seperti rindu orang kebanyakan.
Rindu yang tak harus tergurat menjadi stanza, sajak picisan, atau rayuan.
Rindu yang tak tergesa-gesa meminta sebuah pertemuan, beberapa cangkir kopi, dan kecup untuk menutup.
mengapa kita hidup
Posted in Si Sepi on March 27, 2009 by wendyhidup,
barangkali harus ada yang mencari jawabnya
atau hanya menjalaninya,
menikmati rokoknya,
menyeduh kopinya,
dan sesekali berbincang
pada malam dengan seorang asing
musim belum reda
Posted in di MT Haryono, Si Sepi on March 27, 2009 by wendydi MT Haryono
aku berjalan di sisi kiri
kali ini musim memberiku
hujan yang lebih lembut
ada dingin, namun kukembalikan segala pada hembusnya
kusimpan beberapa gemericik dan jejak air
untuk teman dalam perjalanan pulang
. . tentu aku bisa memilih
Posted in Si Sepi on March 27, 2009 by wendytentu
aku bisa memilih
menangis sekeras debur
atau hanya diam,
seperti karang yang angkuh
namun menderita sejuta rongga
kepada waktu: aku tak ingin reda
Posted in di MT Haryono, Si Sepi on March 27, 2009 by wendyternyata segala berkata enggan
tak terkecuali diri dalamku
semua masih sama
ingin menjadi layang
seluruh pikir, hingar, dan tubuhku
tak kuasa membendung liarku
sehingga tak ada lagi ketakutan
tentang hilang
atau pun,
gurat perih
yang benar-benar membuatku berhenti