diary #1

Aku bukan kekasih kecilmu yang manis, menata jemari dan sibak rambutnya dengan warna yang indah dan tepat. Aku tak seperti figur-figur yang kau baca dalam berita dan wacana pembebasan. Aku pun bukan perempuan-perempuan subur yang telah terbiasa kau kenali dari dongeng-dongeng ibumu. Aku juga bukan jalang liar yang hadir di tiap mimpi-mimpi dalam malam sepimu.

Kau akan selalu saja gagal mengenaliku, jika kau tak pernah benar-benar menjadi kawan dalam terjal landainya perjalananku. Kau akan tetap menjadi komentator moral dari dunia yang penuh tumpah ruah kabar burung mengenai terlarangnya perempuan yang berlalu lalang dalam malam. Kau pun selalu saja menjadi kritikus fashion, ketika kau temukan ada yang janggal dengan warna kulit yang kubanggakan, lekuk-lekuk di tubuhku yang kau tuding sebagai kecacatan, bahkan hanya sekedar oblong yang kukenakan. Kau (lagi-lagi), dari balik buku-buku dan barisan yang kau sombongkan itu, menuduhku sebagai seorang anak manusia yang buta tuli tak peduli dengan hingar bingar ketimpangan di dunia. Dan kau (masih saja)  selalu sok tahu, hanya karena kau pernah menjadi bagian dari sajak-sajak rinduku, hanya karena kau mampu mencuri kecup dariku, dan hanya karena kau dapat membuka percakapan denganku, di kedai kopi pada sebuah jenuh hari.

Kau tak akan pernah mengenaliku dengan baik, dan kurasa kau tak perlu mencobanya, atau berpura-pura dapat melakukannya. Kupikir, sebaiknya kau buang saja analisismu, ukuran-ukuran idealmu, gossip-gossipmu, dan tuduhan-tuduhanmu itu, karena aku adalah aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.